Site Loader
Rock Street, San Francisco

I.         
LATAR BELAKANG

Penulisan makalah ini dilatarbelakangi
oleh lika-liku pemilihan gubernur DKI Jakarta. Menengok beberapa waktu yang
lalu, telah terpilih dan dilantiknya pemimpin bagi warga DKI Jakarta. Dibalik
suksesnya pemilihan umum tersebut, banyak hal yang menuai pro dan kontra
masyarakat,  terlebih salah satu pasangan
calon gubernur DKI Jakarta menganut kepercayaan non muslim. Isu-isu yang
beredar di media pun semakin bermunculan dan sempat meresahkan masyarakat.
Mereka mengambil banyak keuntungan akan situasi saat itu tanpa mempertimbangkan
banyak hal yang akan terjadi. Tidak seharusnya mereka berlaku demikian, mengangkat
dan menutupi sebuah keburukan serta menjatuhkan kebenaran yang akan dikonsumsi
oleh khalayak umum, yang mana tidak semuanya berpendidikan. Mereka dapat saja
melahap mentah-mentah berita tersebut tanpa berpikir panjang.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Terkait dengan kepercayaan merupakan
hal yang cukup pelik dan sensitif. Sebagian besar penduduk Indonesia menganut
agama Islam, namun masih ada beberpa kepercayaan yang juga diakui oleh negara
dan alangkah lebih baik sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) dapat saling
menghormati satu sama lain. Merujuk ke akar permasalahan di atas, dalam Islam
sudah sangat jelas tertulis dalam kitab suci Alquran dan Hadits bahwa haram
hukumnya memilih pemimpin non muslim.

Penulisan makalah ini akan menjelaskan
bagaimana perspektif ulama dalam fatwa hukum memilih pemimpin non muslim?
Haruskah memilih pemimpin non muslim berdasarkan agamanya? Adapun metode yang
digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan studi pustaka sebagai sumber acuannya.

 

 

II.         
LANDASAN TEORI

Ibnu Taimiyah dalam
bukunya  yang berjudul “al-Syasah
al-Syar’iyah fi Islah al-Ra’i wa al-Ra’iyah” (Politik yang Berdasarkan
Syari’ah bagi Perbaikan Penggembala dan Gembala) memiliki tujuan besar yang
tersirat untuk melakuakan perbaikan atas situasi yang terjadi di masyarakat.
Apa yang telah ditulisnya merupakan sebuah pemikiran politik yang berlandaskan
agama. Orientasi pemkiran Ibnu Taimiyah yang berlandaskan agama tersebut
dibuktikan dengan menyajikan sebuah contoh bentuk pemerintahan sebagaimana
menurut Islam berdasarkan dengan keyakinan, bahwa masyarakat hanya mungkin
dapat diatur dengan baik oleh pemerintah yang baik pula.1

 

 

III.         
PEMBAHASAN

Perspektif Ulama Dalam Fatwa Hukum
Memilih Pemimpin non Muslim

Dalam ajaran Islam kedudukan tertinggi yang berperan
penting dalam kehidupan umat yaitu ulama, merupakan pewaris para nabi (al-‘ulama’warasah
al-anbiya’).2 Sebagaimana yang telah
tercantum dalam al-Qur’an maupun Hadits, bahwa ulama adalah mereka yang
memiliki ilmu pengetahuan (ilmuwan) serta bertakwa kepada Allah (innama
yakhsya Allah min ‘ibadih al-‘ulama’, Q.S. Fathir 35:28).3
Adapun fungsi umum ulama yaitu sebagai pencerah bagi umat, sebgaimana yang
tercantum dalam Q.S. al-Jumu’ah 62:2:

 

???? ??????? ?????? ??? ?????????????? ????????
?????? ?????? ???????? ???????? ????????????? ??????????????? ??????????
????????????? ????? ??????? ??? ?????? ????? ??????? ???????  ???

Artinya:

“Dialah yang telah mengutuskan dalam
kalangan orang-orang (Arab) yang Umiyyin, seorang Rasul (Nabi Muhammad s.a.w)
dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang
membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari
iktiqad yang sesat), serta mengajarkan mereka Kitab Allah (Al-Qur’an) dan
hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syarak). Dan
sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad)itu adalah dalam
kesesatan yang nyata.”4

       Dalam
istilah lain, peranan tersebut dapat dikatakan sebagai amr ma’ruf nahy
munkar5, yaitu:

1. menyebarkan dan memepertahankan nilai-nilai agama,

2. melakukan kontrol dalam masyarakat (social
control),

3. memecahkan masalah yang terjadi dalam masyarakat,
dan

4. menjadi agen perubahan sosial (agent of social
change).6

Terlaksanakannya peranan
tersebut tergantung pada masing-masing struktur dan tatanan politik serta
masalah yang tengah dihadapi oleh masyarakat Islam di mana ulama itu berada. Di
Indonesia, peranan ulama tersebut telah lama terwujud, baik pada saat sebelum
penjajahan, ketika masa penjajahan maupun setelah masa penjajahan. Namun
peranan tersebut berkecenderungan fluktuatif karena adanya perubahan struktur
sosial dan politik di mana ulama berperan sangat besar dalam melawan
kolonialisme. Dari keadaan itulah menimbulkan beberapa dampak bagi umat Islam
untuk berhadapan langsung dengan pemerintah, sehingga para ulama, tokoh
keagamaan, dan kaum intelektual muslim dituntut untuk dapat memiliki pemikiran
yang kritis, bahkan berlawanan dengan pemerintah.7

       Atas dasar
persoalan tersebut, pemerintah pun berinisiatif membentuk Majelis Ulama
Indonesia (MUI) pada tahun 1975 yang diharapkan mampu mengatasi masalah yang
ada.8
Adapun tujuan didirikannya Majelis Ulama Indonesia yaitu:

1.     
memberikan
 fatwa atau nasihat tentang
masalah-masalah agama dan sosial,

2.     
meningkatkan
persaudaraan (ukhuwwah) Islam serta memelihara sikap toleran dengan
kelompok-kelompok agama lain,

3.     
mewakili
umat Islam dalam berkomunikasi antar agama,

4.     
bertindak
sebagai media komunikasi antara ulama dengan pemerintah, dan untuk
menerjemahkan kebijakan pemerintah tentang pembangunan, agar masyarakat dapat
memahi dengan mudah.9

Walaupun begitu, komunikasi yang terjalin diantara
keduanya belum dapat berjalan dengan baik. Ketidaklancaraan tersebut disebabkan
oleh beberapa problematika yang salah satunya yaitu keterlibatan banyak orang
Islam di organisasi masyarakat Islam (Muhammadiyah dan NU). Mereka beranggapan
bahwa MUI merupakan tangan panjang pemerintah. Namun yang perlu digaris bawahi
dari fungsi lain MUI yaitu sebagai perwakilan umat Islam dalam berkomunikasi
dengan agama lain terkait dengan kelompok Kristen dan ketidakberhasilan politik
Islam di Indonesia dalam mencapai efektivitas politik (political effectivity).10
Inilah salah satu awal dikeluarkannya fatwa MUI tentang hukum memilih pemimpin
non muslim.

       Sudah
sangat jelas dipastikan, hukum memilih pemimpin non Islam sangatlah terlarang.
Berikut adalah pendapat dari para ulama:

1.     
Dikatakan
oleh Al-Qadhi Iyadh,

 

???? ??????? ??? ??? ??????? ?? ?????
?????? ???? ???? ?? ??? ????
????? ?????

Artinya:

“Para ulama sepakat bahwa kepemimpinan tidak boleh
diserahkan kepada orang kafir. Termasuk ketika ada pemimpin muslim yang
melakukan kekufuran, maka dia harus dilengserkan.” (Syarah Sahih Muslim,
an-Nawawi, 6/315)11

 

2.     
Dikatakan
oleh Ibnu Mundzir,

 

???? ?? : ???? ??? ?? ???? ??? ?? ???
????? ??? ?????? ?? ????? ?? ??? ?????? ???

Artinya:

“Para
ulama yang dikenal telah sepakat bahwa orang kafir tidak ada peluang untuk menjadi
pemimpin bagi kaum  muslimin apapun
keadaannya.” (Akham Ahlu Dzimmah, 2/787)12

 

3.      Adapunyang
dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar,

 

??? ?????? : ????? ?????? ??????? ???? ??? ???
???? ?????? ?? ???? ??? ??? ??? ??? ??? ???????? ??? ???? ????? ?????? ??? ???
???? ???? ?????? ?? ??? ?????

Artinya:

“Sesungguhnya
pemimpin dilengserkan karena kekufuran yang mereka lakukan, dengan sepakat
ulama. Wajib bagi kaum muslimin untuk melengserkannya. Siapa yang mampu
melakukan itu, maka dia mendapat pahala. Dan siapa yang basa-basi dengan mereka
, maka dia mendapat dosa. Dan siapa yang tidak mampu, wajib baginya untuk
hijrah dari daerah itu.” (Fathul Bari, 13/123)13

       Dari ketiga fatwa yang telah disampaikan
oleh ulama di atas merujuk pada hadits Ubadah bin Shamit r.a.,

 

?????? ??? ?????? ???????? ?? ?????? ??????? ??????
?????? ????? ????? ??? ?? ????? ????? ???? ???? ?? ???? ???? ????? ????? ??
????? ??? ?????

Artinya:

“Kami berbaiat Nabi
s.a.w. untuk selalu mendengar dan taat kepada pemimpin, baik dalam suka maupun
benci, sulit maupun mudah, dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak
mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran secara
nyata dan memiliki bukti yang kuat dari Allah.” (Muttafaq ‘alaih)14

 

       Islam telah mengajarkan bahwa urusan yang berkaitan erat
dengan kemaslahatan umum (politik dan sosial) serahkanlah kepada para ulama,
karena merekalah yang memiliki ilmu agama paling dalam. Sebaliknya dengan orang
yang kurang pengetahuannya, sebaiknya tidak ikut berbicara dan berkomentar
lebih jauh yang dikhawatirkan hanya akan menimbulkan kerusakan dan perpecahan
dalam masyarakat. Seperti yang telah diperingatkan oleh Nabi s.a.w dalam
sabdanya:

??? ???? ??
???? ????? ??????? ?????? ?? ?????? ???? ???? ????? ???? ??????? ???? ??? ??
??? ????? ????? ?????? ????? ?????? ?????? ?????? ???? ??? ?????? ???????

Artinya:

“Sesungguhnya Allah
tidak mengangkat ilmu dengan mengangkatnya dari hati para hamba, akan tetapi
Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai ketika Allah tidak
menyisakan seorang ‘alim pun maka manusia mengangkat ornag-orang bodoh sebagai
pemimpin-pemimpin mereka. Maka orang-orang bodoh tersebut ditanya, lalu mereka
berfatwa tanpa ilmu, mereka pun sesat dan menyesatkan.” HR. Al-Bukhari dan
Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a15

 

Adapun sabda Nabi s.a.w
lainnya,

 

????? ??? ????? ????? ?????? ???? ????
?????? ????? ???? ?????? ?????? ???? ?????? ????? ???? ?????? ????? ????
???????? ??? : ??? ????????? ???: ????? ?????? ????? ?? ??? ???????

Artinya:

“Akan
datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di mana pendusta
dipercaya dan orang-orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang
yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.
Ditanyakan, siapa Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara
dalam masalah umum”.” HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah r.a, dishahihkan
Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 365016

 

       Membicarakan fenomena krisis akhir zaman
agaknya menjadi perbincangan yang cukup menarik. Berikut ini terdapat hadits
yang relevan dengan keadaan akhir zaman ini yang diriwayatkan oleh Al-Hakim
dalam bukunya yang berjudul “al-Mustadrak” serta Ibnu Majah dalam kitab
“Sunan”.

 

???
???? ???? ??? ???? ???? ????: ?? ???? ?????????? ??? ??? ??????? ??? ?????
????? ?? ????? ??? ?? ???? ??????? ?? ??? ?? ??? ??????? ??????? ???????? ????
?? ??? ?? ??????? ????? ????? ??? ?????? ??????? ???????? ??? ????? ???????
???? ??????? ???? ??????? ?????? ??? ?????? ???? ??? ???? ??? ????? ????? ??
?????? ??? ?? ??????? ?? ??????? ??? ?????? ??? ???? ???? ????? ??? ??? ????
????? ???? ?? ????? ?????? ??? ???? ??????? ??? ?? ???? ????? ????? ???? ??????
????? ???? ???? ??? ??? ???? ????? ?????.

Artinya:

“Nabi
s.a.w bersabda: “Wahai kaum Muhajirin! Lima perkara akan kalian diuji dengannya
dan aku berharap agar kalian tidak mengalaminya. Tidaklah perbuatan zina muncul
pada suatu masyarakat hingga mereka menyatakan secara terang-terangan kecuali
pasti tersebar di tengah-tengah mereka penyakit menular dan penyakit yang belum
pernah ada di masa lalu. Mereka tidak berlaku curang dalam timbangan
melainkan  mereka akan ditimpa oleh musim
paceklik, sulit pangan dan penguasa yang berlaku zalim pada mereka. Mereka
tidak memakan zakat harta mereka kecuali pasti mereka tidak akan diberi hujan
dan kalau bukan karena binatang ternak niscaya mereka tidak akan diberi hujan
sama sekali. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan janji RasulNya kecuali
pasti Allah akan menundukkan mereka di depan musuhnya lalu mengambil sebagian
apa yang ada di tangan mereka. Dan jika para pemimpin mereka tidak menerapkan
kitab Allah dan memilih-milih di antara apa yang diturunkan Allah niscaya Allah
akan menimpa keganasan sebagian mereka atas sebagian yang lain.”17

1 Munawir
Sjadzali, Islam dan Tata Negara: ajaran, sejarah dan pemikiran, Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1995, 82.

2 Nanang Tahqiq,
Politik Islam, Jakarta: Prenada Media, 2004, 189.

3 Ibid., 188.

4 www.surah.my/62.

5 Tahqiq,
op.cit, 189.

6 Ibid.

7 Ibid.

8 Ibid., 193.

9 Ibid.,
194.

10 Abuddin Nata, Problematika
Politik Islam di Indonesia, Jakarta: PT Grasindo, 2002, 28.

11 Fatwa Ulama
tentang Hukum Memilih Pemimpin non-Muslim, diakses dari http://kasmui.com/v1/?/p=6164 pada tanggal 1 November 2016 pukul
23:51.

12 Ibid.

13 Ibid.

14 Ibid.

15 Ibid.

16 Ibid.

17 Daud Rasyid, Islam
dan Reformasi ( Telaah Kritis atas Keruntuhan Rezim-rezim Diktator dan
Keharusan Kembali Kepada Syari’ah), Jakarta: Usamah Press, 2001, 56-57.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Jeremy!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out